Selasa, 31 Oktober 2017

Memahami Budaya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam Pameran Seni Rupa "Nandur Srawung #4"

adipraa.com - Tak dapat dipungkiri jika budaya yang berkembang di kehidupan sehari-hari masyarakat Yogyakarta sangat dipengaruhi oleh Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Budaya Keraton menjadi pusat kebudayaan masyarakat Jogja yang sampai sekarang tetap eksis dengan karakter adiluhung yang kuat. 
Nandur Srawung #4 | adipraa.com
Nandur Srawung #4

Di hari terakhir (31/10) perhelatan Pameran Seni Rupa “Nandur Srawung #4” yang dilaksanakan di Taman Budaya Yogyakarta, saya mencoba untuk memahami lebih dalam budaya Kraton melalui ekspresi drawing yang bertemakan “Budaya Jogja Budaya Jawa Adiluhung”. Drawing sendiri merupakan salah satu pendekatan seni secara visual dengan menggunakan garis-garis untuk mengungkapkan gagasan-gagasan yang bermakna. Pameran ini diikuti oleh 400 seniman yang merekam budaya Yogyakarta melalui drawing.
Kraton Jogja Dalam Garis Imajiner dan Masjid Pathok Negoro | adipraa.com
Kraton Jogja Dalam Garis Imajiner dan Masjid Pathok Negoro

Dimulai dari budaya religi yang dapat dilihat dari konsep tata ruang kotanya. Kraton Jogja dalam garis imajiner dan masjid pathok negoro merupakan salah satu bentuk konsep tata kota yang memiliki nilai filosofi religi yang sangat mendalam. Sebuah negeri nan makmur anugerah dari Gusti Allah yang patut kita syukuri.
Tansah Eling | adipraa.com
Tansah Eling

Tugu golong gilig atau lebih familiar dengan sebutan Tugu Jogja, merupakan simbol bersatunya antara raja (golong) dan rakyat (gilig). Simbol ini juga mengisyaratkan hubungan antara khalik (Sang Pencipta) dan makhluk (ciptaan). Sehingga dalam budaya jogja ada sebuah ungkapan "Tansah Eling". Perjalanan hidup insan manusia akan mencapai kesempurnaan apabila selalu ingat kepada Gusti Allah. Ungkapan "selalu ingat", sebagaimana kita ketahui bahwa mengingat sendiri merupakan sebuah proses yang harus selalu dilakukan secara terus menerus.
Abdi Dalem | adipraa.com
Abdi Dalem
Abdi Budaya | adipraa.com
Abdi Budaya

Melihat ke dalam sosok "Abdi Dalem", inilah penjaga identitas budaya Jawa khususnya gaya Yogyakarta. Para abdi dalem memiliki penampilan yang sangat khas. Kesehariannya mereka memakai pakaian bercorak lurik dengan kancing leher berjumlah enam dan kancing tangan berjumlah lima. Corak lurik mengandung arti keteguhan hati, madep mantep. Kancing di leher menandakan rukun iman. Sedangkan kancing lengan tangan menandakan rukun islam. Tentunya masih banyak lagi filosofi-filosofi santun lainnya dari pakaian yang dikenakan para abdi dalem mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Jemparingan Mataram | adipraa.com
Panah dadaku Pak'e!

Jemparingan Mataram, memanah dengan gaya duduk bersila. Bukan sekedar panahan biasa, lebih tepatnya seni mengolah rasa. Di dalam membidik sasaran diperlukan rasa tenang layaknya mengheningkan cipta dan berdoa.
Jemparingan | adipraa.com
Jemparingan Mataram

Ketenangan, makna yang terkandung dari filosofi jemparingan. Bahwa seseorang harus mempunyai ketenangan dalam mengambil sebuah keputusan, agar keputusan yang diambil tepat. Bukankah memanah merupakan salah satu olah raga yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Relax and read another post here: Silaturahmi Di Museum Tembi Rumah Budaya
Inilah budaya warisan leluhur yang diangkat dari pengalaman batin dan mengandung berbagai petunjuk mengenai hidup. Budaya jawa khususnya Budaya Yogyakarta yang mengajarkan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, manusia dengan sejarah dan lingkungannya, serta manusia dengan dirinya sendiri.

Pameran yang sangat menarik. Mengungkapkan budaya Jogja budaya Jawa Adiluhung dalam sebuah karya seni drawing. Dan saya banyak belajar memahami Budaya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam Pameran Seni Rupa "Nandur Srawing #4" ini. Terimakasih dan salam budaya. FIN.
Previous Post
Next Post
Related Posts

13 komentar:

  1. mau dong kesitu,
    suka galau kalau ada yg posting soal yogya..
    pengen ke yogya,tapi ga bisa2.. hiks

    BalasHapus
  2. eh aku suka pameran gini
    filosifinya juga mantep banget

    BalasHapus
  3. Budaya Jawa sangat religius dan sosialis kebudayaan yang sangat mengedapankan hubungan dengan sang penciptanya dan alam serta isinya

    BalasHapus
  4. keren filosopi memanahnya, emang sunnah... tapi saya belum pernah coba T.T

    BalasHapus
  5. Jogja memang enggak pernah habis untuk dibahas
    dari warisan budaya lokal yang masih kental, serta filosofinya
    selain kuliner dan wisatanya..

    BalasHapus
  6. Indonesia memang negeri yang kaya akan budaya. Saya sendiri tinggal di Aceh yang juga memiliki budaya yang beragam...
    Salam blogger.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam blogger juga mas Amrie. Maturnuwun

      Hapus
  7. Budaya Jawa memang adiluhung dan edipeni...bangga jadi wong Jogja yang jadi sentral Budaya Jawa...

    BalasHapus
  8. wah, aku juga org jogja. orang jogja memng punya tradisi sopan andap asor karo wong sing luwih sepuh.

    BalasHapus
  9. Aku kalo ke Yogya y ake yogya saja,
    tidak pernah menelisik latar belakangnya sampai sejauh ini.
    makasih ya mas sudah ngasih wawasan baru :)

    BalasHapus
  10. pengen nih nyobain memanah yang dianjurin rosululloh

    BalasHapus
  11. Filosofi yang sangat bagus, Kang. 😊😇

    BalasHapus
  12. Sepertinya saya harus kejogja lagi deh!... ternyata banyak tempat2 yang mesti dikunjungi salah satunya ini nih!

    BalasHapus