Friday, 24 July 2026

Reportase Adipraa: ELTI Student Market Hadirkan Kreativitas Murid dalam Beragam Produk Handmade yang Unik

adipraa.com - Suasana berbeda terasa di Communal Space ELTI Kotabaru pada akhir pekan ini. Area yang biasanya menjadi tempat berkumpul dan beraktivitas tersebut disulap menjadi ruang pamer sekaligus bazar kreatif melalui kegiatan Elti Student Market. Acara ini menjadi wadah bagi para murid ELTI untuk menampilkan hasil karya sekaligus belajar mengenal dunia kewirausahaan sejak dini.
ELTI Student Market
ELTI Student Market

Elti Student Market berlangsung selama dua hari, yaitu pada Jumat, 24 Juli 2026 pukul 16.00–18.00 WIB dan Sabtu, 25 Juli 2026 pukul 10.00–12.00 WIB. Meski berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, kegiatan ini berhasil menarik perhatian para orang tua, siswa, maupun pengunjung yang datang untuk melihat berbagai produk kreatif hasil tangan para murid.

Sejak memasuki area Communal Space ELTI, pengunjung langsung disambut oleh deretan stand yang tertata rapi. Terdapat lima stand yang diisi oleh para murid dengan beragam produk kerajinan tangan atau handmade. Masing-masing stand memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari aksesori, pernak-pernik lucu, hingga suvenir yang dibuat dengan sentuhan kreativitas anak-anak. Kegiatan seperti ini bukan hanya menjadi ajang berjualan, tetapi juga kesempatan bagi para murid untuk belajar mempromosikan produk, melayani pembeli, dan membangun rasa percaya diri dalam berinteraksi dengan orang lain.

Berbagai produk yang ditawarkan di Elti Student Market cukup beragam. Pengunjung dapat menemukan aneka bando, pin, gantungan kunci, serta berbagai aksesori kecil yang cocok dijadikan koleksi maupun hadiah. Seluruh produk terlihat dibuat dengan penuh kreativitas sehingga memiliki nilai tersendiri dibandingkan produk pabrikan. Keunikan inilah yang menjadi daya tarik utama dari Student Market, karena setiap karya mencerminkan ide dan karakter para pembuatnya.
Vannique Shop
Vannique Shop

Salah satu stand yang cukup menarik perhatian adalah Vannique Shop. Stand ini menghadirkan koleksi bando dengan desain yang ceria dan menggemaskan. Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Vannique Shop mengusung tema merah putih pada sebagian besar koleksi bandonya. Kombinasi warna khas Indonesia tersebut membuat aksesori yang dijual terasa semakin relevan dengan suasana menjelang bulan Agustus. Bando-bando ini dapat menjadi pelengkap penampilan saat mengikuti berbagai kegiatan perayaan kemerdekaan, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal.
Bikin Pinmu Sendiri
Bikin Pinmu Sendiri

Selain bando, stand lain juga menawarkan pengalaman yang tidak kalah menarik melalui produk pin custom. Berbeda dengan pin biasa, di sini pengunjung memiliki kesempatan untuk berkreasi sendiri. Pengunjung cukup menggambar sesuai imajinasi menggunakan spidol pada media yang telah disediakan. Setelah gambar selesai, hasil karya tersebut kemudian diproses menjadi sebuah pin yang unik dan personal. Aktivitas sederhana ini ternyata cukup menarik perhatian, terutama bagi anak-anak yang antusias menuangkan kreativitas mereka ke dalam gambar. Hasilnya pun menjadi suvenir yang memiliki nilai sentimental karena dibuat berdasarkan karya sendiri.

Tidak hanya menjadi tempat berbelanja, Elti Student Market juga menghadirkan suasana yang hangat dan penuh semangat. Para murid tampak antusias menjelaskan produk yang mereka jual kepada para pengunjung. Interaksi yang terjadi antara penjual dan pembeli memberikan pengalaman belajar yang sangat berharga bagi anak-anak. Mereka tidak hanya belajar menghasilkan sebuah karya, tetapi juga memahami bagaimana memperkenalkan produk, berkomunikasi dengan pelanggan, hingga menghargai proses di balik sebuah usaha kecil.

Kegiatan seperti Elti Student Market menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Melalui aktivitas ini, para murid memperoleh pengalaman nyata mengenai kreativitas, kerja sama, tanggung jawab, hingga dasar-dasar kewirausahaan. Mereka belajar bahwa sebuah ide dapat diwujudkan menjadi produk yang memiliki nilai jual apabila dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Di sisi lain, para orang tua juga memiliki kesempatan untuk memberikan dukungan secara langsung terhadap hasil karya anak-anak dengan mengunjungi dan membeli produk yang dipamerkan.

Elti Student Market menjadi salah satu kegiatan yang menarik untuk dikunjungi. Selain menawarkan beragam produk handmade yang unik dan kreatif, acara ini juga menjadi ruang bagi para murid untuk mengembangkan potensi diri melalui pengalaman berwirausaha. Kehadiran lima stand dengan berbagai pilihan aksesori seperti bando, pin, gantungan kunci, dan pernak-pernik lainnya berhasil menciptakan suasana bazar yang hidup dan menyenangkan. Kreativitas para murid, dipadukan dengan dukungan dari guru, orang tua, dan pengunjung, menjadikan Elti Student Market bukan sekadar bazar biasa, tetapi juga ajang pembelajaran yang inspiratif. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus diselenggarakan di masa mendatang sehingga semakin banyak karya kreatif anak-anak yang dapat diapresiasi sekaligus menjadi inspirasi bagi masyarakat.

Thursday, 23 July 2026

Jelajah Majelis Ilmu: Kajian Dengan Membaca Buku Bila Kumati

adipraa.com - Kamis malam, 23 Juli 2026, menjadi salah satu kesempatan berharga untuk kembali menghadiri majelis ilmu. Kali ini saya diajak oleh dua kawan lama, Triyadi dan Firman, mengikuti kajian yang disampaikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits di Masjid Darussalam Ganjuran (MDG). Kajian yang berlangsung ba'da Magrib hingga menjelang salat Isya tersebut membahas sebuah buku berjudul Bila Kumati, sebuah karya yang mengajak setiap muslim merenungkan kematian melalui teladan terbaik, yaitu wafatnya Rasulullah SAW.
Kajian Dengan Membaca Buku Bila Kumati
Kajian Dengan Membaca Buku Bila Kumati

Suasana masjid terasa begitu tenang. Jamaah yang hadir menyimak setiap penjelasan dengan khusyuk. Kajian malam itu membawa kami menelusuri detik-detik terakhir kehidupan Nabi Muhammad SAW, dimulai dari peristiwa Haji Wada' pada tahun ke-10 Hijriah hingga wafatnya beliau pada tahun ke-11 Hijriah. Haji Wada' bukan sekadar ibadah haji terakhir Rasulullah, tetapi juga menjadi momen penuh pesan dan nasihat bagi seluruh umat Islam.

Dalam kajian dijelaskan bahwa Allah SWT telah memberikan isyarat akan dekatnya wafat Rasulullah melalui firman-Nya dalam Surah An-Nashr. Para ulama memahami bahwa turunnya surah tersebut merupakan pertanda telah sempurnanya misi dakwah Rasulullah SAW. Ketika sebuah negeri telah menerima Islam dan manusia berbondong-bondong memeluk agama Allah, maka tugas kerasulan telah mencapai puncaknya. Karena itulah Rasulullah diperintahkan untuk memperbanyak tasbih, memuji Allah, dan memohon ampun kepada-Nya.

Ustadz Ammi Nur Baits juga mengingatkan kembali salah satu kalimat Rasulullah SAW ketika menyampaikan khutbah pada Haji Wada'. Beliau bersabda agar umatnya mengambil pelajaran manasik haji langsung dari beliau, seraya menyampaikan bahwa bisa jadi setelah tahun itu mereka tidak akan lagi bertemu dengannya. Kalimat tersebut menjadi isyarat yang baru benar-benar dipahami para sahabat setelah Rasulullah benar-benar wafat beberapa bulan kemudian.

Kajian semakin menyentuh ketika membahas beberapa wasiat Rasulullah SAW menjelang akhir hayatnya. Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah agar setiap muslim senantiasa berbaik sangka (husnudzon) kepada Allah SWT, terutama ketika menghadapi sakaratul maut. Seorang mukmin hendaknya menghadap Allah dengan penuh harapan akan rahmat dan ampunan-Nya, tanpa kehilangan rasa takut kepada-Nya.

Selain itu, Rasulullah SAW juga memberikan penekanan yang sangat besar terhadap salat. Dalam kondisi sakit yang semakin berat, beliau berulang kali mengingatkan, Jagalah salat, jagalah salat. Wasiat tersebut menunjukkan bahwa salat merupakan tiang agama dan ibadah yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apa pun. 

Pesan lain yang tidak kalah penting adalah larangan membangun masjid di atas kuburan atau menjadikan kuburan sebagai tempat yang diagungkan untuk beribadah. Rasulullah SAW memberikan peringatan keras mengenai hal tersebut sebagai bentuk penjagaan terhadap kemurnian tauhid. Beliau tidak menginginkan umatnya terjerumus pada perbuatan yang dapat mengantarkan kepada kesyirikan, sebagaimana yang pernah terjadi pada umat-umat terdahulu.

Bagi saya pribadi, kajian malam itu menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup Rasulullah SAW bukan hanya untuk dikagumi, tetapi juga untuk diteladani. Mengetahui bagaimana beliau menghadapi akhir kehidupannya membuat hati semakin sadar bahwa setiap manusia pun akan sampai pada titik yang sama. Yang membedakan adalah bagaimana kita mempersiapkan bekal untuk menghadap Allah SWT. Semoga setiap langkah menuju majelis ilmu selalu menjadi jalan untuk menambah iman, memperbaiki amal, serta menguatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Kajian seperti ini bukan sekadar menambah wawasan sejarah Islam, tetapi juga menghadirkan renungan mendalam agar kita senantiasa menjaga tauhid, memelihara salat, berhusnudzon kepada Allah, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian.

Jelajah Majelis Ilmu: Memahami Pembatal Islam dan Pentingnya Menjaga Tauhid

adipraa.com - Kamis, 23 Juli 2026, menjadi salah satu siang yang penuh makna. Selepas melaksanakan salat Dhuhur berjamaah di Masjid Al Ikhsan RSUD Kota Yogyakarta, saya berkesempatan mengikuti tausiyah yang disampaikan oleh Ust. Abdussalam Busyro. Kajian singkat yang rutin diadakan setelah salat tersebut kali ini mengangkat tema Pembatal Islam, sebuah pembahasan yang sangat penting sebagai pengingat bagi setiap muslim agar senantiasa menjaga keimanan. 
Jelajah Majelis Ilmu #1
Jelajah Majelis Ilmu #1

Pada kesempatan tersebut, Ust. Abdussalam Busyro menjelaskan bahwa salah satu pembatal Islam yang paling utama adalah mempersekutukan Allah (syirik). Syirik merupakan dosa terbesar dalam Islam karena merusak kemurnian tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam setiap bentuk ibadah. Melalui penyampaian yang sederhana namun sarat makna, beliau mengingatkan bahwa seorang muslim harus selalu berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam segala bentuk kesyirikan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. 

Selain membahas tentang syirik, kajian ini juga memberikan pengingat mengenai pentingnya menjaga tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa amalan yang ditekankan antara lain menjaga salat lima waktu dengan sebaik-baiknya, karena salat merupakan tiang agama sekaligus bentuk ketaatan kepada Allah. Tidak kalah penting, beliau juga mengajak jamaah untuk terus menghadiri kajian-kajian Islam agar ilmu agama terus bertambah dan keimanan semakin kokoh. Dengan ilmu yang benar, seorang muslim akan lebih mudah memahami mana yang diperintahkan dan mana yang harus dihindari.

Meski hanya berlangsung dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah salat Dhuhur, materi yang disampaikan mampu memberikan bekal berharga untuk direnungkan dan diamalkan. Kajian seperti ini menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan bekerja, selalu ada kesempatan untuk menambah ilmu agama dan memperbaiki kualitas diri. 

Ust. Abdussalam Busyro juga menyampaikan bahwa pembahasan mengenai Pembatal Islam lainnya akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya. Hal ini tentu menjadi motivasi tersendiri untuk kembali hadir dan mengikuti rangkaian kajian hingga selesai, sehingga pemahaman tentang akidah dan tauhid dapat dipelajari secara utuh. Semoga setiap langkah menuju majelis ilmu menjadi jalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperkuat tauhid, serta menjadi bekal dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Insyaallah, saya menantikan kesempatan berikutnya untuk kembali menghadiri kajian dan melanjutkan pembahasan tentang pembatal-pembatal Islam yang akan disampaikan pada pertemuan mendatang.

Saturday, 20 June 2026

Review RVM Plasticpay di RS JIH Yogyakarta, Cara Seru Menyetor Botol Plastik Jadi Poin

adipraa.com - Belakangan ini saya tertarik mengenalkan kebiasaan peduli lingkungan kepada anak-anak lewat cara yang sederhana dan menyenangkan. Salah satu hal yang ingin saya coba adalah mengajak mereka melihat langsung bahwa botol plastik bekas sebenarnya tidak harus selalu berakhir di tempat sampah. Dari situlah saya mulai mengenal Plasticpay, sebuah gerakan sosial berbasis platform yang mengajak masyarakat untuk mengubah sampah botol plastik yang merusak lingkungan menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan membawa kebaikan multi-dimensi. Plasticpay bukan hanya sekadar aplikasi pengumpul poin, tetapi juga bagian dari gerakan yang mendorong masyarakat untuk memilah sampah plastik, mendaur ulangnya, dan ikut berkontribusi pada pengurangan sampah yang selama ini menjadi persoalan besar di sekitar kita.
Reverse Vending Machine (RVM) Plasticpay
Reverse Vending Machine (RVM) Plasticpay

Konsep Plasticpay menurut saya menarik karena menggabungkan unsur edukasi lingkungan, teknologi, dan insentif yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Jadi, masyarakat tidak hanya diajak membuang botol plastik pada tempatnya, tetapi juga diberi pengalaman baru bahwa sampah botol plastik bisa dikumpulkan, disetorkan, lalu ditukar menjadi poin yang nantinya dapat dimanfaatkan kembali. Bagi saya, pendekatan seperti ini terasa lebih dekat dengan kebiasaan masyarakat modern, karena ada unsur praktis sekaligus menyenangkan.

Karena penasaran ingin mencoba langsung bagaimana cara kerja Reverse Vending Machine (RVM) Plasticpay, pada siang hari tanggal 20 Juni 2026 saya pun mengajak anak-anak untuk setor botol plastik ke salah satu RVM Plasticpay di Yogyakarta. Dari beberapa titik yang tersedia di Jogja, saya memilih RVM Plasticpay di RS JIH Yogyakarta karena lokasinya yang paling dekat dari rumah. Sejauh yang saya tahu, saat ini ada lima titik RVM Plasticpay di Yogyakarta, yaitu di UNISA, UMY, Teras Malioboro, BSI UIN, dan RS JIH. Kehadiran beberapa titik ini tentu memudahkan masyarakat yang ingin mulai membiasakan diri memilah dan menyetorkan botol plastik bekas.
Botol Plastik yang akan disetor ke RVM
Botol Plastik yang akan disetor ke RVM

Botol plastik yang kami bawa siang itu sebenarnya tidak banyak, hanya 8 botol plastik. Namun justru dari jumlah yang sederhana itu saya merasa pengalaman pertama menggunakan mesin Plasticpay jadi terasa lebih santai dan tidak terburu-buru. Anak-anak pun terlihat antusias sejak awal, apalagi ketika melihat bentuk mesin RVM yang cukup menarik perhatian.
Layar RVM
Layar RVM

Begitu sampai di lokasi, saya langsung mencoba proses setor botolnya dan ternyata caranya cukup mudah. Langkah pertama adalah menekan tombol “mulai” pada layar mesin. Setelah itu, botol plastik dimasukkan satu per satu ke dalam lubang yang tersedia. Setiap botol yang dimasukkan akan ditarik otomatis oleh mesin, lalu lampu indikator berubah menjadi hijau sebagai tanda bahwa botol berhasil diterima. Bagian ini justru menjadi momen yang paling seru bagi anak-anak. Mereka penasaran melihat botol yang dimasukkan bisa tertarik sendiri ke dalam mesin. Anak saya bahkan ingin ikut mencoba memasukkan botol satu per satu.
Mencoba memasukkan botol ke RVM
Mencoba memasukkan botol ke RVM

Pengalaman sederhana seperti ini terasa sangat berharga karena anak-anak bisa belajar bahwa sampah plastik bukan hanya benda yang dibuang, tetapi juga bisa diproses dengan cara yang lebih bertanggung jawab. Selain jadi aktivitas seru di siang hari, pengalaman ini juga sekaligus menjadi sarana edukasi kecil tentang pentingnya memilah sampah sejak dini. Setelah semua botol selesai dimasukkan ke mesin, proses berikutnya adalah mengambil poin melalui aplikasi Plasticpay. Caranya juga cukup praktis. Saya membuka aplikasi Plasticpay di ponsel, lalu di layar mesin memilih menu ambil poin. Setelah itu, muncul barcode yang harus dipindai menggunakan aplikasi Plasticpay. Setelah barcode berhasil dipindai, tinggal klik konfirmasi poin di aplikasi hingga muncul notifikasi bahwa transaksi berhasil. Menurut saya, alurnya cukup sederhana dan ramah untuk pengguna baru. Seluruh proses terasa cepat, tidak ribet, dan justru memberi pengalaman yang menyenangkan karena ada sensasi “menukar sampah menjadi poin” secara langsung.

Dari 8 botol plastik yang kami setor, total berat yang tercatat di mesin adalah 0,4196 kg. Dari jumlah tersebut, kami mendapatkan 448 poin. Kalau dihitung rata-rata, berarti satu botol plastik bernilai sekitar 56 poin. Angka ini memang mungkin terlihat kecil jika dibayangkan sebagai nominal, tetapi menurut saya justru bukan itu inti utamanya.

Hal yang paling menarik dari Plasticpay adalah bagaimana platform ini berhasil mengubah sudut pandang kita terhadap botol plastik bekas. Barang yang biasanya langsung dibuang ternyata masih punya nilai, bahkan bisa menjadi bagian dari kebiasaan baik yang lebih besar. Poin yang terkumpul nantinya bisa ditukarkan ke berbagai reward digital seperti GoPay, OVO, DANA, ShopeePay, LinkAja, dan masih banyak lagi. Ini menjadi daya tarik tambahan, terutama bagi masyarakat yang mungkin membutuhkan dorongan lebih agar terbiasa memilah sampah plastik. Namun bagi saya pribadi, manfaat terbesarnya justru ada pada pengalaman itu sendiri. Mengajak anak-anak menyetor botol plastik ke Reverse Vending Machine Plasticpay terasa seperti langkah kecil yang bermakna. Mereka belajar bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari hal besar.

Pengalaman mencoba RVM Plasticpay di RS JIH Yogyakarta menurut saya sangat menarik, mudah, dan layak dicoba, terutama untuk keluarga yang ingin mengenalkan edukasi lingkungan kepada anak-anak dengan cara yang praktis. Plasticpay berhasil menghadirkan konsep daur ulang yang terasa lebih dekat, modern, dan menyenangkan. Dengan proses yang simpel, sistem poin yang jelas, serta manfaat nyata bagi lingkungan, RVM Plasticpay bukan hanya sekadar mesin setor botol, tetapi juga media edukasi dan pengingat bahwa perubahan kebiasaan bisa dimulai dari langkah kecil. Jika semakin banyak orang terbiasa menyimpan botol plastik bekas lalu menyetorkannya ke RVM seperti ini, saya percaya dampaknya akan jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.