Friday, 14 August 2026

Mata SePeLe Jangan Disepelein! Cerita Mata Kering Setelah Seharian di Depan Komputer

Mata sepet? Paling cuma kurang tidur.
Mata perih? Mungkin karena kelamaan di depan komputer.
Mata lelah? Wajar, namanya juga kerja.

Dulu, kurang lebih seperti itulah cara saya menanggapi ketika mata mulai terasa tidak nyaman. Keluhannya terasa sederhana dan tidak sampai membuat saya harus menghentikan pekerjaan. Jadi, sering kali saya memilih mengabaikannya. Sampai akhirnya saya mengenal istilah SePeLe: SEpet, PErih, LElah. Tiga keluhan yang mungkin terdengar ringan, tetapi ternyata cukup dekat dengan keseharian saya yang hampir setiap hari bekerja di depan layar komputer.

Gejala Mata SePeLe SEpet PErih LElah Jangan Disepelein
Gejala mata SePeLe: SEpet, PErih, dan LElah jangan disepelein.
“Kalau mata sudah memberikan sinyal, masih pantaskah kita menganggapnya sepele?”

07.30 — Layar Komputer Menyala

Rutinitas kerja saya dimulai sekitar pukul 07.30 WIB dan biasanya berlangsung sampai pukul 15.00 WIB. Selama jam kerja, komputer menjadi bagian penting dari aktivitas saya. Membaca data, mengetik, mengolah dokumen, memeriksa pekerjaan, hingga menyelesaikan berbagai urusan administrasi membuat mata cukup lama berhadapan dengan layar.

Ketika sedang fokus, saya sering tidak sadar sudah cukup lama menatap monitor. Mata terus mengikuti tulisan, angka, dan berbagai informasi yang muncul di layar. Sampai pada satu titik, mulai terasa sepet dan lelah. Sesekali muncul rasa perih dan keinginan untuk memejamkan mata sebentar.

Bukan rasa sakit yang membuat pekerjaan harus berhenti. Namun, rasa tidak nyaman tersebut cukup untuk membuat konsentrasi terasa berbeda. Membaca tulisan di layar tidak senyaman ketika kondisi mata sedang baik-baik saja.

Bukan Cuma Duduk di Depan Komputer

Sebenarnya saya tidak terus-menerus duduk di depan komputer. Ada saja aktivitas yang membuat saya harus meninggalkan meja. Sesekali saya berjalan ke ruang tata usaha untuk meminta stempel dokumen. Ada pula keperluan pekerjaan lain yang mengharuskan saya berpindah ke bagian lain, ambil minum ke pantry atau pergi ke toilet.

Dulu, saya menganggap aktivitas tersebut hanya bagian dari rutinitas pekerjaan. Sekarang saya melihatnya sebagai kesempatan kecil untuk sejenak menjauh dari layar. Saat berjalan, pandangan tidak lagi terpaku pada monitor. Mata bisa melihat suasana sekitar dan tubuh pun sedikit bergerak setelah cukup lama duduk.

Sepele?
Mungkin keluhannya ringan. Tetapi kalau muncul berulang dan mulai mengganggu kenyamanan, bukankah sudah waktunya kita lebih peduli?

Saat Mata Mulai Minta Perhatian

Saya kemudian mulai memperhatikan kebiasaan saat bekerja. Ketika terlalu fokus membaca atau mengerjakan sesuatu di komputer, saya bisa lupa berkedip. Padahal, terlalu lama berkonsentrasi di depan layar dapat membuat frekuensi berkedip berkurang sehingga mata terasa lebih kering dan tidak nyaman.

Saya pun mulai memberikan jeda untuk mata. Ketika pekerjaan memungkinkan, saya mengalihkan pandangan dari monitor dan melihat objek yang lebih jauh. Saya juga berusaha lebih sadar untuk berkedip, memperhatikan pencahayaan ruangan, mengatur posisi monitor, dan tidak memaksakan mata ketika mulai terasa lelah.

Aktivitas sederhana seperti mengambil minum atau pergi ke toilet pun saya manfaatkan sebagai jeda. Tidak perlu menunggu pekerjaan selesai seluruhnya untuk memberikan kesempatan mata beristirahat.

Rekomendasi dari Istri

Ada satu cerita lain yang membuat saya kemudian mencoba solusi untuk membantu menjaga kenyamanan mata. Saya bercerita kepada istri tentang mata yang terkadang terasa sepet, perih, dan lelah setelah bekerja di depan komputer.

Kebetulan, istri saya bekerja di rumah sakit khusus mata. Dari dialah saya mendapatkan rekomendasi untuk mencoba INSTO DRY EYES.

Yang saya coba
INSTO DRY EYES
Salah satu upaya saya untuk membantu menjaga kenyamanan mata saat beraktivitas di depan layar.

Saya kemudian mencoba menggunakan INSTO DRY EYES untuk membantu membuat mata terasa lebih nyaman saat bekerja. Bagi saya, penggunaannya menjadi salah satu bagian dari usaha menjaga kenyamanan mata, bersama dengan kebiasaan memberikan jeda dari layar, lebih sering berkedip, dan tidak memaksakan mata ketika mulai terasa lelah.

Dari pengalaman tersebut, saya juga mulai lebih memperhatikan Gejala Mata Kering yang muncul dalam aktivitas sehari-hari. Mata yang terasa sepet, perih, atau lelah mungkin terlihat sederhana, tetapi jangan langsung diabaikan ketika keluhan tersebut muncul berulang atau mulai mengganggu aktivitas.

Pelajaran dari Balik Layar

Pengalaman ini membuat saya belajar bahwa menjaga kenyamanan mata sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Berhenti sejenak dari layar. Mengalihkan pandangan. Berkedip. Mengambil minum. Pergi ke toilet. Berjalan sebentar. Dan ketika membutuhkan bantuan untuk menjaga kenyamanan mata, menggunakan produk yang sesuai dengan aturan penggunaannya.

Bagi saya, istilah SePeLe kini bukan lagi sekadar permainan kata. SEpet, PErih, LElah menjadi pengingat bahwa mata juga membutuhkan perhatian.

Jangan tunggu mata benar-benar tidak nyaman baru mulai peduli.
Dengarkan sinyalnya. Berikan jeda. Jaga kenyamanannya.

Karena itu, pesan “Gejala Mata SePeLe Jangan Disepelein!” bagi saya bukan sekadar slogan. Ini adalah pengingat dari pengalaman sehari-hari bahwa mata juga punya batas, terutama ketika hampir setiap hari harus bekerja di depan layar komputer.

Dan dari pengalaman sederhana tersebut, saya membawa satu pesan: #InstoDryEyes, #BebasMataKering, dan #MataSePeLeJanganSepelein. Karena ketika mata mulai SEpet, PErih, atau LElah, mungkin memang sudah waktunya kita berhenti sejenak dan lebih peduli.

Latest
Next Post

0 comments: