Saturday, 21 October 2017

After The Show: Ketika Microphone Meringkuk di Jalanan Kotabaru Jogja

ADIPRAA URBAN ART GALLERY
2017

AFTER THE SHOW

Ketika sebuah microphone tidak sekadar menjadi benda, tetapi berubah menjadi cerita tentang musik, kelelahan, manusia, dan ruang kota.
01
Featured Sculpture After The Show

adipraa.com - Jogja Street Sculpture Project 2017, menawarkan karya patung dengan menjadikan ruang kota sebagai medan presentasinya.

Kawasan Kotabaru dipilih sebagai titik fokus penyebaran karya seni patung dari para pematung dan studio-studio patung. Ada sekitar 50 pematung dari Asosiasi Pematung Indonesia (API) yang ikut membingkai ruang kota ini dengan menghadirkan karya-karya patung kreatif dan berbudaya.

01
The Sculpture
After The Show
After The Show
Artwork Spotlight
Microphone yang Meringkuk

Salah satu karya yang dipamerkan dalam gelaran seni di ruang publik dua tahunan ini adalah After The Show.

Penempatan patung karya Philips Sambalao, seorang seniman berdarah Sangihe Talaud Sulawesi Utara, lokasinya berada di Jalan Ngadikan, Kotabaru Yogyakarta.

Letaknya tak jauh dari gedung Jiwasraya dan Raminten Resto.

Artist Profile
Philips Sambalao

Saat dikonfirmasi langsung via Instagram (@philipssambalaoofficial) tentang bagaimana ide dari patung berwujud microphone ini muncul, seniman kelahiran Jakarta yang saya sapa Bang Philips menjelaskan kalau dia sering "memanusiakan" benda dalam menciptakan karyanya.

Philips Sambalao and the Sculpture
Philips Sambalao and the Sculpture (Source)
02
The Story Behind It
Artist Statement
"Saya mempresentasikan diri saya pada sebuah microphone. Selain kepuasan setelah menyanyi, ada dampak lain yang akan dialami yaitu kelelahan."

"Mic yang meringkuk merupakan gambaran dari momen tersebut" , jelas Bang Philips yang ternyata juga seorang vokalis band.

Beberapa bandnya adalah NAMANYA ADALAH (Punk - vokal & gitar), LADYROCKERS (Rock - gitar) dan TURN ME ON (Punk - vokal & gitar).

Sculpture microphone satu ini berbahan material polyster resin dengan teknik cetak dan plestering yang dikerjakan selama sekitar 1 (satu) bulan.

Bang Philips menceritakan pengalamannya kalau sempat masuk rumah sakit karena tipus ditengah penggarapan patung mic ini. Hardwork for best result!

03
Art Meets The City
Urban Context
Musik, Kota & Kotabaru

Karya patung kreatif ini merespon konteks sosial-spasial kota di kawasan Kotabaru dimana kawasan ini memang menjadi salah satu ruang publik kota yang tak pernah sepi dari kegiatan musik.

Tengok saja Stadion Kridosono, tempat ini sering dijadikan venue favourit untuk konser para musisi.

Masih hangat dalam ingatan saat dua band legendaris, God Bless (Indonesia) dan Dream Theater (Amerika Serikat), sukses menggebrak Jogja dalam sebuah festival musik rock yang digelar di Stadion Kridosono september lalu.

Tak hanya itu, spot-spot lain yang tak jauh dari konser musik adalah cafe dan resto yang ada di sekitar kawasan Kotabaru.

Kesehariannya, hampir tiap malam kawasan ini dihiasi dengan alunan-alunan musik secara live.

04
Reading The Sculpture

Patung MIC yang meringkuk berdimensi 200 x 150 x 60 centimeter ini seakan ingin menciptakan interaksi dan dialog kreatif untuk mereka yang menikmati hiburan musik di kawasan Kotabaru.

My Interpretation
Kalau Mic Bisa Ngomong...

After the show , kalau microphone bisa ngomong, mungkin akan nyeletuk: "Hayati lelah bang!"

Itulah salah satu makna yang bisa ditangkap dari sculpture karya Bang Philips.

05
The Artist's Hope

Terakhir, ketika ditanya apa harapannya untuk Jogja Street Sculpture Project 2017: JOGJATOPIA, Bang Philips berharap semoga semakin banyak sponsor atau donatur baik itu dari pihak pemerintah maupun swasta.

Sehingga banyak pematung dari luar Pulau Jawa dan Bali yang dapat ikut serta dalam kegiatan ini.

A Note From The Artist
"Sedih kalau lihat pematung di daerah, minim kegiatan mas."
ADIPRAA STREET ART NOTE

Hayati Lelah, Bang!

Yuk kepo-in sculpture karya Bang Philips yang berjudul After The Show di Jogja Street Sculpture Project 2017.

Sebuah microphone, sebuah karya seni, dan sebuah cerita tentang apa yang terjadi setelah panggung musik selesai.

FIN.

Previous Post
Next Post
The Blogger

  1. bentuk dan idenya unik, hehe..

    -Traveler Paruh Waktu-

    ReplyDelete
  2. sayang aku pas belum balik
    hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lekas balik mas, masih ada waktu 3 bulan kok untuk menikmati JSSP2017.

      Delete
  3. Wah deket raminten...
    Btw, mas nya ini wartawankah? Ini salah satu hasil liputan? Soale sering nulis2 acara d jogja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya hanya seorang blogger jogja yang suka menulis reportase mbak Artha :)

      Delete
  4. mungkin sewaktu membuat mic, terlalu ngoyo lupa istirahat ya ,sampai jatuh sakit gitu.

    ReplyDelete
  5. Ini pamerannya sampai kapan to? Kemari aku pulang ke Yogya sama sekali ga denger. Masih ada ga ya pas pulkam dua bulan lagi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih sampai 10 Januari 2018 kok. Ditunggu pulkamnya mbak Lutfi

      Delete
  6. saya pikir patung mic-nya kurang pondasi gitu mas jadi meleot gitu wwkkw

    *kabur*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woooo, mas Andi ki. Tak cipok lho ngko. *kejar*

      Delete
  7. yogya, kota yang ngangenin. hehehhe.
    eh ada ya mix patah seperti itu disana?

    ReplyDelete
  8. Mirip banget patung Mic nya dan unik lagi sampai meleyot gitu

    ReplyDelete
  9. setuju banget sama baang philipp. semoga ke depannya banyak sponsor dan donatur yang mau ikut berpartisipasi. dengan adanya sponsor maka kegiatan ini akan semakin lancar karena sudah didukung pendanaan yg dibutuhkan.

    ReplyDelete
  10. Jadi mic meleot menggambarkan kelelahan, unik juga tak terpikirkan bagi orang yang bukan berjiwa seni, yang bisa memanusiakan benda . keren

    ReplyDelete