Tuesday, 7 November 2017

Enjoy Mural Jogja: Semar, Punakawan Bijak yang Penuh Pesan di Dinding Kota

Enjoy Mural Jogja • Wayang Edition

SEMAR On The Wall

Ketika tokoh Punakawan yang penuh petuah hadir dalam mural-mural Jogja. Dari Gunung Ketur, Tukangan, hingga sudut kota lainnya.

Adipraa Report • Street Art + Wayang Jawa

adipraa.com - Sugeng rawuh! Sambut hangat dari saya atas kehadiran sahabat semua. Satu ungkapan kebahagiaan karena didatangi yang menyiratkan doa dan harapan.

Semoga yang diberi ucapan "selamat datang" rasa Jawa ini dalam keadaan serba selamat tanpa kurang suatu apapun. Amin ya rabbal alamin.

Mural lagi ya gaes! Enjoy Mural Jogja kali ini bercerita tentang salah satu tokoh pewayangan yang menjadi bapa dalam kelompok Punakawan.

01

Mengenal Sosok Semar

Tokoh yang digambarkan memiliki watak yang sabar dan bijaksana. Karakter Punakawan satu ini bernama SEM­AR.

Wayang Note
Haseming Samar-Samar

Sosok yang misterius, tidak jelas nyata dan tidak nyata, namun secara simbolis mewujudkan tentang ke-Esa-an. Kepala dan matanya yang melihat ke atas, mengajarkan manusia agar selalu mengingat Sang Maha Pencipta.

Semar dikisahkan sebagai abdi yang melayani tanpa pamrih. Dibalik wujudnya sebagai pelayan, tersimpan sifat-sifat mulia yang mengayomi dan mampu memecahkan masalah-masalah rumit.

Posisinya sangat dihormati, menjadi rujukan para ksatria saat hendak meminta nasihat dan petunjuk.

Hal ini dapat diartikan, manusia sejatinya agar selalu berdoa dan melaksanakan ibadah sesuai dengan tuntunan agama. Jadi, Semar bisa dikatakan sebagai simbolisasi dari agama yang menjadi pedoman dan prinsip hidup.

SABAR

Menghadapi kehidupan dengan ketenangan dan tidak mudah menyerah.

BIJAKSANA

Menjadi rujukan dan tempat meminta nasihat ketika menghadapi persoalan.

MENGAYOMI

Melayani dan membantu tanpa pamrih serta menjaga orang-orang di sekitarnya.

Itulah selintas penokohan sosok Semar dalam pewayangan yang bisa kita ambil pelajaran. Yuk tengok mural-mural di Jogja yang menampilkan karakter Punakawan, khususnya Semar. Check this out!

Mural Semar di Wilayah Gunung Ketur, Pakualaman, Yogyakarta | adipraa.com
Mural Semar di Wilayah Gunung Ketur, Pakualaman, Yogyakarta
02

Memayu Hayuning Bawana

“Memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara.”
Petuah yang dikaitkan dengan Semar

Itulah salah satu petuah bijak dari Semar. Arti sederhananya bahwa kesejahteraan itu harus diusahakan dan sifat tamak dan serakah juga harus diberantas.

Budaya gotong royong merupakan identitas nasional. Salah satu perwujudan nyata dari semangat persatuan masyarakat Indonesia dalam mengusahakan kesejahteraan bersama.

Budaya Gotong Royong sebagai identitas nasional | adipraa.com
Budaya Gotong Royong sebagai identitas nasional
Message From The Wall
Gotong Royong

Kesejahteraan bersama tidak dibangun sendirian. Semangat kebersamaan dan gotong royong menjadi pesan yang terasa kuat dari mural ini.

03

Ketika Individualisme Muncul

Di era jaman now, kehidupan masyarakat cenderung individualis atau lebih mementingkan diri sendiri sehingga bisa memunculkan sifat tamak dan serakah.

Karenanya, budaya gotong royong semestinya tetap dijaga secara terus menerus dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari agar masyarakat dapat saling mengenal satu sama lain.

Dengan begitu, proses sosialisasi manusia yang notabene sebagai makhluk sosial dapat terus terjaga keberlangsungannya.

Tujuan akhirnya diharapkan mampu memberantas individualisme yang cenderung memunculkan sifat tamak dan serakah.

Mural Semar di wilayah Ledok, Tukangan, Yogyakarta
Mural Semar di wilayah Ledok, Tukangan, Yogyakarta
Spot Check
Merdeka dalam Keberagaman

Kalau mural satu ini terlihat Semar dan ketiga anaknya seperti sedang bikin mural bertuliskan Merdeka dalam Keberagaman, Jogja, City of Tolerance.

Eh, kok kuas yang dibawa Semar nyolok mata sosok buto abang. Mural ini lokasinya berada di tembok bawah jembatan rel kereta api dekat Kampung Bright Gas, sebutan wilayah Ledok, Tukangan, Yogyakarta.

Jogja, City of Tolerance | adipraa.com
Jogja, City of Tolerance
04

Jogja, City of Tolerance

Mural ini memaknai Jogja sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi. Jogja, kota dimana penuh dengan keberagaman masyarakat yang hidup bersama.

Sekalipun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda, namun Jogja mampu mengedepankan nilai toleransi. Guyup rukun!

Guyup Rukun
Berbeda bukan berarti harus terpisah. Hidup bersama adalah bagian dari cerita sebuah kota.
Mural Semar di pertigaan Jalan Kusumanegara, Yogyakarta | adipraa.com
Mural Semar di pertigaan Jalan Kusumanegara, Yogyakarta
05

Semar dan Semangat PSIM

Para Punakawan termasuk Semar sedang main bola nih, semuanya pakai kostum jersey Persatuan Sepakbola Indonesia Mataram (PSIM) .

Pesan Semar buat teman-teman PSIM, “mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…”

“Tetap bekerja keras, walaupun hasilnya tak seberapa. Kepuasan karena berusaha akan tetap abadi.”
Pesan moral dari mural Semar

Sebuah pesan moral yang sangat dalam agar kita selalu bekerja keras, walaupun hasilnya tak seberapa, namun kepuasan yang didapat karena berusaha tersebut akan abadi.

Tetap semangat ya!

Enjoy Mural Jogja

Demikian cerita ngalor ngidul Mural Semar kali ini.

Jika ada yang kurang berkenan mohon dimaafkan ya gaes! Semoga menghibur.

Enjoy it! Maturnuwun.

adipraa.com • Enjoy Mural Jogja • Semar Edition
#EnjoyMuralJogja   #MuralJogja   #Semar   #Punakawan   #Wayang   #Jogja   #Yogyakarta   #StreetArt   #PSIM   #Adipraa
Previous Post
Next Post
The Blogger

  1. Kalau di mural seperti ini baiknya kalau mau foto pagi-pagi ya, Mas.
    Beberapa kali aku foto juga pagi2, selain sepi jalan juga, jadi bisa bebas abadiin foto :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Andi, waktu yg tepat pagi hari. Saya itu jepretnya jg hanya memanfaatkan perjalanan pulang kantor. Makasih sudah komen pertamax. :)

      Delete
  2. aamiiin..

    Semar ini tokoh yg terpatri di pikiran gue sejak kecil sebagai sosok yg sakti mandraguna..

    Itu pesan2 muralnya bagus bgt ya, bagus disampaikan di era modernisasi yang semakin individualis masyarakatnya..

    Salam
    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maturnuwun, Salam balik dari Jogja mas Bara Anggara.

      Delete
  3. wah, mural terus yg diposting, tampak keren mas
    . siapa yg bikin ya?

    ini keliatan 2D, aku suka kayaknya pas foto tapi backgroundnya mural graavity giu, biar kayak anak muda banget. hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, namanya juga "enjoy mural jogja", jadi mural terus. Kalau "Enjoy Analisis Band Jepang" nanti dikira niru mas Beny. :)

      Monggo kalau mau merapat ke Jogja dan poto pake background muralnya, biar kyk anak muda banget.

      Mmakasih sudah berkunjung mas.

      Delete
  4. Jogja kayanya gudang mural ya, surabaya ada sih cuman ga sebegitu banyak. Nice mas ulasannya :)

    ReplyDelete
  5. Sudah mulai normal lagi ni mas adi kolom komentarnya

    ReplyDelete
  6. Jalan kusumanegara sering tak buat transit TJ tapi gak ngeh sama muralnya
    aku suka mural semarnya mas
    tokoh semar filosofisnya dalam sekali

    ReplyDelete
  7. coret-coret didinding itu namanya mural ya..
    saya baru tahu..ku kira cuma melukis iseng aja
    #aku_kudet

    ReplyDelete
  8. Yang aku pikirin kalo liat mural itu. Ntar klo udah mulai kusam dan gak segera dikasih sentuhan ulang. Jadi sayang

    ReplyDelete
  9. Asyik di Jogja, budaya jawa masih kental sekali, cuma kalau main ke jogja yang jadi masalah buatku adalah makanannya manis2, susah cari yang buat lidah jawatimuran.

    ReplyDelete
  10. Mural di Jogja memang asyik-asyik ya, Mas Adi Pradana, dan jadi semakin asyik tatkala dikupas dalam tulisan seperti tulisan Mas Adi ini.

    ReplyDelete
  11. Jogya memang selalu terkenal dengan kreativitasnya.

    ReplyDelete