Thursday, 23 July 2026

Jelajah Majelis Ilmu: Kajian Dengan Membaca Buku Bila Kumati

adipraa.com - Kamis malam, 23 Juli 2026, menjadi salah satu kesempatan berharga untuk kembali menghadiri majelis ilmu. Kali ini saya diajak oleh dua kawan lama, Triyadi dan Firman, mengikuti kajian yang disampaikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits di Masjid Darussalam Ganjuran (MDG). Kajian yang berlangsung ba'da Magrib hingga menjelang salat Isya tersebut membahas sebuah buku berjudul Bila Kumati, sebuah karya yang mengajak setiap muslim merenungkan kematian melalui teladan terbaik, yaitu wafatnya Rasulullah SAW.
Kajian Dengan Membaca Buku Bila Kumati
Kajian Dengan Membaca Buku Bila Kumati

Suasana masjid terasa begitu tenang. Jamaah yang hadir menyimak setiap penjelasan dengan khusyuk. Kajian malam itu membawa kami menelusuri detik-detik terakhir kehidupan Nabi Muhammad SAW, dimulai dari peristiwa Haji Wada' pada tahun ke-10 Hijriah hingga wafatnya beliau pada tahun ke-11 Hijriah. Haji Wada' bukan sekadar ibadah haji terakhir Rasulullah, tetapi juga menjadi momen penuh pesan dan nasihat bagi seluruh umat Islam.

Dalam kajian dijelaskan bahwa Allah SWT telah memberikan isyarat akan dekatnya wafat Rasulullah melalui firman-Nya dalam Surah An-Nashr. Para ulama memahami bahwa turunnya surah tersebut merupakan pertanda telah sempurnanya misi dakwah Rasulullah SAW. Ketika sebuah negeri telah menerima Islam dan manusia berbondong-bondong memeluk agama Allah, maka tugas kerasulan telah mencapai puncaknya. Karena itulah Rasulullah diperintahkan untuk memperbanyak tasbih, memuji Allah, dan memohon ampun kepada-Nya.

Ustadz Ammi Nur Baits juga mengingatkan kembali salah satu kalimat Rasulullah SAW ketika menyampaikan khutbah pada Haji Wada'. Beliau bersabda agar umatnya mengambil pelajaran manasik haji langsung dari beliau, seraya menyampaikan bahwa bisa jadi setelah tahun itu mereka tidak akan lagi bertemu dengannya. Kalimat tersebut menjadi isyarat yang baru benar-benar dipahami para sahabat setelah Rasulullah benar-benar wafat beberapa bulan kemudian.

Kajian semakin menyentuh ketika membahas beberapa wasiat Rasulullah SAW menjelang akhir hayatnya. Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah agar setiap muslim senantiasa berbaik sangka (husnudzon) kepada Allah SWT, terutama ketika menghadapi sakaratul maut. Seorang mukmin hendaknya menghadap Allah dengan penuh harapan akan rahmat dan ampunan-Nya, tanpa kehilangan rasa takut kepada-Nya.

Selain itu, Rasulullah SAW juga memberikan penekanan yang sangat besar terhadap salat. Dalam kondisi sakit yang semakin berat, beliau berulang kali mengingatkan, Jagalah salat, jagalah salat. Wasiat tersebut menunjukkan bahwa salat merupakan tiang agama dan ibadah yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apa pun. 

Pesan lain yang tidak kalah penting adalah larangan membangun masjid di atas kuburan atau menjadikan kuburan sebagai tempat yang diagungkan untuk beribadah. Rasulullah SAW memberikan peringatan keras mengenai hal tersebut sebagai bentuk penjagaan terhadap kemurnian tauhid. Beliau tidak menginginkan umatnya terjerumus pada perbuatan yang dapat mengantarkan kepada kesyirikan, sebagaimana yang pernah terjadi pada umat-umat terdahulu.

Bagi saya pribadi, kajian malam itu menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup Rasulullah SAW bukan hanya untuk dikagumi, tetapi juga untuk diteladani. Mengetahui bagaimana beliau menghadapi akhir kehidupannya membuat hati semakin sadar bahwa setiap manusia pun akan sampai pada titik yang sama. Yang membedakan adalah bagaimana kita mempersiapkan bekal untuk menghadap Allah SWT. Semoga setiap langkah menuju majelis ilmu selalu menjadi jalan untuk menambah iman, memperbaiki amal, serta menguatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Kajian seperti ini bukan sekadar menambah wawasan sejarah Islam, tetapi juga menghadirkan renungan mendalam agar kita senantiasa menjaga tauhid, memelihara salat, berhusnudzon kepada Allah, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian.
Latest
Next Post
Related Posts

0 comments: