Sunday, 9 August 2026

Combro dan Misro Sahuapeun: Jajanan Favorit Setiap Lewat Pasar Muntilan

adipraa.com - Ahad, 9 Agustus 2026, saya mendapat “tugas negara” mengantar istri kondangan ke Magelang. Namanya juga tugas negara, tentu harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dong! Dalam perjalanan menuju Magelang, kami melewati kawasan Pasar Muntilan. Nah, kalau sudah melewati kawasan ini, ada satu jajanan yang hampir tidak pernah kami lewatkan, mampir untuk membeli combro dan misro. Dua jajanan tradisional sederhana yang sudah menjadi salah satu panganan favorit setiap kali melintas di sekitar Pasar Muntilan.
Combro dan Misro Sahuapeun
Combro dan Misro Sahuapeun

Jajanan tersebut dijual dari sebuah gerobak dengan nama yang cukup unik, yaitu “Sahuapeun”. Nama ini langsung menarik perhatian karena terdengar khas bahasa Sunda. Ternyata, kata ini memiliki makna yang berhubungan dengan ukuran suapan. Dalam bahasa Sunda, kata ini dapat dimaknai sebagai seukuran suapan atau satu suapan. Correct me if I wrong.
Misro yang baru saja selesai digoreng
Misro yang baru saja selesai digoreng

Entah kenapa, ada daya tarik tersendiri ketika melihat deretan combro dan misro yang sudah matang, seakan memanggil untuk dinikmati. Bentuknya sederhana, tanpa kemasan mewah atau tampilan kekinian, tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya menarik. Apalagi kalau jajanan tersebut masih hangat dan baru saja selesai digoreng. Aroma khas gorengan dari singkong langsung menggugah selera. Buat saya, inilah salah satu kenikmatan berburu jajanan tradisional: tidak perlu sesuatu yang mewah untuk membuat lidah senang.

Dari bentuknya, combro dan misro cukup mudah dibedakan. Combro berbentuk bulat agak lonjong, sedangkan misro memiliki bentuk yang lebih bulat. Keduanya sama-sama dibuat dari adonan singkong yang kemudian dibentuk dan digoreng hingga permukaannya berwarna keemasan. Kalau hanya melihat sekilas, keduanya memang terlihat mirip karena sama-sama berbahan dasar singkong. Namun, perbedaan bentuk dan terutama isiannya membuat pengalaman menikmati kedua jajanan ini menjadi berbeda.  

Menariknya, nama combro dan misro juga memiliki cerita yang berasal dari bahasa Sunda. Combro merupakan kependekan dari “oncom di jero”, yang berarti oncom di dalam. Sesuai namanya, bagian tengah combro diisi dengan oncom yang sudah dibumbui. Dan misro berasal dari istilah “amis di jero”, yang berarti manis di dalam. Bagian tengah misro berisi gula merah yang memberikan rasa manis ketika digigit. Jadi, dari namanya saja sebenarnya kita sudah mendapatkan petunjuk mengenai kejutan rasa yang tersembunyi di dalam masing-masing jajanan.
Combro
Combro

Untuk combro, saya suka perpaduan antara bagian luarnya yang renyah dengan bagian dalam yang lebih lembut. Adonan singkong yang digoreng menghasilkan tekstur yang gurih, sementara isian oncom berbumbu memberikan karakter rasa yang lebih kuat. Ketika masih hangat, sensasi renyah di bagian luar semakin terasa. Setelah digigit, kita akan menemukan isian oncom di bagian tengahnya. Rasa gurih dan aroma khas oncom membuat combro cocok disantap sebagai camilan di sela perjalanan.
Misro
Misro

Sementara itu, misro menawarkan pengalaman yang berbeda. Bentuknya yang bulat membuatnya terlihat sederhana, tetapi justru menyimpan kejutan manis di bagian dalam. Begitu digigit, rasa gula merah mulai terasa. Perpaduan antara singkong goreng yang gurih dan gula merah yang manis menghasilkan cita rasa yang khas. 

Di tengah banyaknya pilihan makanan modern, jajanan berbahan dasar singkong tetap memiliki tempat tersendiri. Bentuknya sederhana, bahan-bahannya mudah ditemukan, tetapi proses pengolahan dan rasa akhirnya mampu menghasilkan sesuatu yang begitu akrab di lidah.
Mampir beli Combro dan Misro
Mampir beli Combro dan Misro

Mampir membeli combro dan misro juga menjadi bagian kecil dari perjalanan saya menuju Magelang. Tujuan utama perjalanan kali ini memang untuk mengantar istri menghadiri acara kondangan, tetapi perjalanan akan terasa kurang lengkap kalau tidak diselingi mampir membeli jajanan favorit. Tidak perlu berhenti lama. Cukup membeli beberapa buah untuk dinikmati selama perjalanan atau dibawa pulang. Hal sederhana seperti ini justru sering menjadi bagian yang paling mudah diingat dari sebuah perjalanan yang bisa diceritakan kembali di blog ini.

Kalau bicara soal jajanan tradisional, saya merasa combro dan misro adalah contoh bagaimana makanan sederhana bisa memiliki cerita. Ada bahan lokal berupa singkong, ada teknik pengolahan sederhana, ada isian dengan karakter rasa berbeda, bahkan ada cerita bahasa di balik penamaannya.

Bagi saya, combro dan misro dari gerobak Sahuapeun dekat Pasar Muntilan bukan sekadar jajanan pengganjal perut. Ada rasa kesederhanaan dan kenikmatan tersendiri yang membuat selalu ingin mampir ketika melewati kawasan ini. Combro dengan bentuk bulat agak lonjong dan rasa gurih dari oncom di dalam, serta misro yang bulat dengan kejutan manis gula merah di dalamnya, menjadi kombinasi yang sulit ditolak.

Jadi, kalau suatu saat sahabat adipraa sedang melintas di sekitar Pasar Muntilan, tepatnya di depan Gedung Etalase Potensi Desa Pucungrejo, jangan buru-buru lewat. Kalau melihat gerobak Sahuapeun dengan deretan combro dan misro berwarna cokelat keemasan, mungkin sudah waktunya berhenti sebentar. Cobalah jajanan combro dan misro ini. Sederhana, tradisional, dan pas untuk beberapa suapan, sesuai namanya, Sahuapeun.
Latest
Next Post

0 comments: