Thursday, 6 August 2026

Jelajah Majelis Ilmu: Memahami Neraka agar Selamat di Akhirat Bersama Ust. Oemar Mita

adipraa.com - Alhamdulillah, perjalanan Jelajah Majelis Ilmu kembali berlanjut. Kali ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada adik saya tercinta yang telah membagikan tautan kajian Ust. Oemar Mita melalui kanal YouTube Hikmah Harian. Di tengah aktivitas sehari-hari, ternyata masih ada kesempatan untuk menambah ilmu agama. Saat menunggu anak mengikuti les, saya memilih memanfaatkan waktu dengan menyimak kajian tersebut.
Memahami Neraka agar selamat di Akhirat
Jelajah Majelis Ilmu

Momen yang awalnya hanya sekadar mengisi waktu luang justru berubah menjadi kesempatan berharga untuk melakukan muhasabah dan memperbaiki diri. Kajian yang saya ikuti mengangkat tema “Memahami Neraka agar Selamat di Akhirat.” Judulnya terdengar cukup berat, tetapi justru itulah yang membuat saya tertarik untuk mendengarkannya hingga selesai.

Selama ini, banyak orang lebih senang mendengar pembahasan tentang surga, rahmat Allah, atau pahala dari berbagai amal ibadah. Padahal, mengingat adanya neraka juga merupakan bagian dari keimanan yang dapat mendorong seorang muslim untuk lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Oemar Mita mengawali pembahasannya dengan menjelaskan doa yang terdapat dalam QS. Al-Furqan ayat 65-66, yang artinya “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahannam dari kami.” 

Doa ini bukan sekadar bacaan yang diucapkan oleh lisan, melainkan sebuah permohonan yang lahir dari hati yang benar-benar memahami dahsyatnya azab neraka. Allah SWT menggambarkan bahwa azab Jahannam adalah azab yang terus melekat dan merupakan seburuk-buruk tempat menetap bagi manusia. Karena itulah, doa tersebut menjadi salah satu ciri orang-orang beriman yang selalu berharap mendapatkan keselamatan dari Allah SWT.

Salah satu pelajaran yang saya tangkap dari kajian ini adalah penjelasan bahwa seorang mukmin sejati tidak pernah merasa aman dari azab Allah, meskipun ia telah melakukan banyak amal saleh. Semakin tinggi keimanan seseorang, justru semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Rasa takut ini bukan membuat seseorang putus asa, melainkan mendorongnya untuk terus memperbaiki ibadah, memperbanyak amal, dan senantiasa memohon ampunan kepada-Nya.

Ustadz Oemar Mita kemudian memberikan contoh teladan dari para sahabat Rasulullah SAW. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang dikenal sebagai sosok pemberani ternyata memiliki rasa takut yang sangat besar terhadap azab Allah. Begitu pula Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Abu Hurairah, yang meskipun telah dijamin kemuliaannya sebagai sahabat Nabi, tetap tidak pernah merasa aman dari kemungkinan mendapatkan murka Allah. Mereka terus memperbanyak ibadah, menangis ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an, dan senantiasa memohon agar diselamatkan dari api neraka. Kisah-kisah tersebut menjadi pengingat bahwa semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin besar pula rasa takut dan harapnya kepada-Nya.

Kajian ini juga mengutip nasihat dari Hasan Al-Bashri mengenai ciri-ciri orang yang benar-benar beriman. Beliau menjelaskan bahwa seorang mukmin akan selalu menggabungkan rasa takut kepada azab Allah dengan harapan terhadap rahmat-Nya. Sebaliknya, orang yang lalai sering kali merasa aman dengan amal yang dimilikinya, seolah-olah telah memiliki jaminan keselamatan. Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui bagaimana akhir kehidupannya nanti.

Ada pula pesan yang menurut saya sangat penting untuk direnungkan, yaitu jangan pernah bercanda tentang surga maupun neraka. Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita mendengar seseorang melontarkan gurauan yang meremehkan perkara akhirat. Padahal, surga dan neraka adalah perkara gaib yang benar adanya dan menjadi bagian dari akidah seorang muslim. Membahasnya dengan nada bercanda dapat mengurangi rasa hormat terhadap perkara yang begitu agung.

Selain itu, Ustadz Oemar Mita juga mengingatkan pentingnya menjauhi dosa sebelum terlambat. Setiap dosa yang dianggap kecil apabila terus dilakukan tanpa taubat dapat menjadi penghalang keselamatan di akhirat. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa melakukan introspeksi, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, memperbanyak istighfar, dan tidak menunda taubat. Kesempatan hidup yang masih Allah berikan adalah nikmat yang seharusnya digunakan untuk kembali kepada jalan yang benar.

Bagi saya pribadi, kajian ini menjadi pengingat yang sangat berharga. Ternyata menunggu anak les pun bisa menjadi ladang ilmu apabila dimanfaatkan dengan baik. Daripada menghabiskan waktu untuk sekadar bermain media sosial tanpa tujuan, saya merasa jauh lebih tenang ketika dapat mendengarkan kajian yang menambah wawawan.

Inilah salah satu makna Jelajah Majelis Ilmu yang ingin saya jalani, yaitu menghadirkan majelis ilmu di mana pun berada, baik secara langsung di masjid maupun melalui kajian daring dari para ustadz yang kemudian saya rangkum dalam sebuah artikel agar dapat saya baca kembali.

Semoga kita termasuk hamba yang memperbanyak amal saleh, menjauhi maksiat, tidak pernah merasa aman dari dosa, serta selalu memanjatkan doa sebagaimana yang diajarkan dalam Al-Qur’an, “Rabbanashrif ’anna adzaba Jahannam”, agar Allah menjauhkan kita dari api neraka dan mengumpulkan kita bersama orang-orang yang beriman di surga-Nya kelak. Aamiin.
Latest
Next Post

0 comments: