Tuesday, 4 August 2026

Dari Botol Bekas Jadi Vas Estetik, Begini Cara Adipraa Merawat Sirih Marble di Media Air

adipraa.com - Sejak mulai mengoleksi berbagai jenis tanaman sirih, saya jadi semakin tertarik mencoba beberapa cara perawatan. Salah satu yang paling sering saya lakukan adalah menanam sirih marble di media air atau water propagation. Selain praktis, metode ini juga membuat tanaman terlihat lebih estetik ketika dijadikan dekorasi di dalam rumah.
Sirih Marble dengan media air
Sirih Marble dengan media air

Lalu muncul pertanyaan, apakah tanaman seperti sirih marble bisa hidup di dalam ruangan hanya dengan media air?

Jawabannya adalah bisa. Bahkan, menurut pengalaman saya, sirih marble termasuk salah satu tanaman yang mudah beradaptasi dengan metode water propagation, asalkan kebutuhan dasarnya tetap terpenuhi. Sirih marble (Epipremnum aureum 'Marble Queen') memiliki kemampuan mengeluarkan akar baru dari setiap ruas batang. Itulah sebabnya tanaman ini sering dijadikan pilihan untuk diperbanyak menggunakan media air. Selain mudah dirawat, akar putih yang tumbuh di dalam wadah bening juga memberikan daya tarik tersendiri.

Awalnya saya hanya ingin mencoba memperbanyak koleksi. Namun, setelah melihat tampilannya yang cantik, akhirnya saya memutuskan untuk membiarkan beberapa stek sirih marble tetap hidup di media air dan menjadikannya sebagai dekorasi indoor. Ternyata, keputusan itu tidak mengecewakan. Hingga sekarang tanaman tetap tumbuh sehat dan sesekali mengeluarkan daun baru.

Yang menarik, saya tidak menggunakan vas kaca mahal. Saya justru memanfaatkan botol bekas minuman UC1000 sebagai wadahnya. Bentuk botol yang ramping ternyata sangat pas untuk menopang batang sirih marble sekaligus memberi ruang bagi akar untuk tumbuh di dalam air. Daripada menjadi sampah plastik, botol bekas tersebut kini memiliki fungsi baru yang jauh lebih bermanfaat.

Supaya tampilannya lebih menarik, botol UC1000 itu saya bungkus menggunakan cover rajutan (crochet cover). Hasilnya benar-benar di luar dugaan. Botol bekas yang sederhana berubah menjadi vas tanaman yang cantik dan unik. Saya juga bisa mengganti warna cover sesuai suasana atau tema ruangan. 

Bagi saya, ini menjadi salah satu keseruan dalam hobi tanaman hias, yaitu mengombinasikan kreativitas dengan pemanfaatan barang bekas. Kini, vas dari botol UC1000 yang dibalut cover rajutan menjadi salah satu sudut favorit saya di rumah. Saat akar putih mulai memenuhi bagian dalam botol dan daun-daun baru bermunculan, tampilannya justru semakin menarik. Kombinasi daun hijau bercorak putih, air yang jernih, dan rajutan sederhana mampu menghadirkan suasana segar di dalam ruangan tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Meski bisa hidup di media air, sirih marble tetap membutuhkan cahaya terang tidak langsung (bright indirect light). Saya biasanya meletakkannya di dekat jendela yang mendapat sinar matahari pagi atau cahaya alami yang tersaring tirai tipis. Posisi seperti ini membantu tanaman tetap sehat sekaligus menjaga corak putih pada daunnya tetap terlihat cantik. Sebaliknya, jika ditempatkan di ruangan yang terlalu gelap, sirih marble memang masih mampu bertahan hidup. Namun pertumbuhannya akan lebih lambat, dan warna putih pada daun perlahan bisa berubah menjadi lebih hijau karena tanaman memproduksi lebih banyak klorofil untuk berfotosintesis.

Perawatan media air sebenarnya cukup sederhana. Saya menggunakan air bersih yang sudah didiamkan semalaman, kemudian menggantinya setiap 5–7 hari sekali. Saat mengganti air, saya juga membilas akar secara perlahan. Jika ada akar yang mulai kecokelatan atau lembek, segera saya potong agar tidak memengaruhi akar lainnya.

Karena tidak memperoleh unsur hara dari tanah, sesekali saya menambahkan pupuk cair khusus hidroponik dengan dosis yang sangat encer. Pemberian pupuk tidak perlu terlalu sering, cukup setiap beberapa minggu sekali agar tanaman tetap memperoleh nutrisi tanpa membuat air cepat keruh.
Baca artikel Adipraa Leaf Garden lainnya :
Weekend Me Time: Repotting Sirih Marble dan Menikmati Hobi Tanaman Hias →
Salah satu hal yang paling saya sukai dari metode water propagation adalah proses mengamati pertumbuhan akar. Rasanya selalu menyenangkan melihat akar putih semakin panjang dari minggu ke minggu, lalu disusul munculnya daun baru. Aktivitas sederhana seperti ini justru menjadi bagian yang membuat saya semakin menikmati hobi merawat tanaman.

Walaupun demikian, perlu diketahui bahwa media air lebih cocok untuk perawatan jangka pendek hingga menengah atau sebagai dekorasi indoor. Jika tujuan Anda adalah mendapatkan tanaman yang tumbuh sangat besar dan rimbun, media tanam berupa campuran tanah, cocopeat, sekam bakar, dan perlite umumnya memberikan hasil yang lebih optimal. Namun bukan berarti sirih marble tidak bisa bertahan lama di air. Dengan perawatan yang konsisten, tanaman ini tetap dapat hidup sehat dalam waktu yang cukup lama. 

Menurut saya, metode ini sangat cocok bagi siapa saja yang ingin mulai memelihara tanaman hias tanpa ribet. Perawatannya mudah, kondisi akar dapat dipantau setiap saat, sekaligus menjadi dekorasi cantik di dalam rumah. Kalau ditanya apakah saya akan terus memelihara sirih marble di media air, jawabannya tentu iya. Selain praktis, saya juga merasa puas karena bisa memanfaatkan botol bekas menjadi vas yang estetik.

Hobi tanaman ternyata bukan hanya soal merawat daun agar tetap hijau, tetapi juga tentang berkreasi, memanfaatkan barang yang ada di sekitar, dan menikmati setiap proses pertumbuhannya. Bagi saya, melihat sirih marble tumbuh subur di dalam botol UC1000 yang dibungkus cover rajutan sudah cukup membuat sudut rumah terasa lebih hidup dan menenangkan.
Latest
Next Post
  1. Halo ! Banyak teman teman blogger menghilang ya: adhy suryadi pemilik kompi ajaib dulu udah ga bisa bangun lagi (lumpuh total) himawan sant stop di 2021 di semua platform hilang di tahun yang sama. Terus kang ismet stop total. Gak ada berita banyak. Era blogger gak pernah sama lagi 🫣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo juga! 😊 Iya ya, kalau dipikir-pikir memang banyak nama besar di dunia blogger yang dulu sering kita kunjungi, sekarang sudah jarang bahkan berhenti menulis. Ada yang karena kesibukan, ada yang memilih fokus ke platform lain, dan ada juga yang karena kondisi kesehatan.

      Kalau saya sendiri masih bertahan ngeblog karena selalu teringat kata pertama yang Allah turunkan, yaitu “Iqra’” (bacalah). Bagi saya, membaca dan menulis adalah dua hal yang saling melengkapi. Dari membaca, kita mendapatkan ilmu; dari menulis, kita bisa berbagi dan meninggalkan jejak yang semoga bermanfaat bagi orang lain. Selama masih diberi kesempatan untuk belajar dan berbagi, saya ingin terus menulis. Meski era blogging sudah berubah, semangat itu masih tetap ada. 😊✍️

      Delete