Menjelajah Museum Tembi Rumah Budaya
Adipraa.com - Heyho, guys! Yang namanya rejeki itu tak melulu soal harta berupa uang. Rejeki juga bisa hadir dalam bentuk kesempatan untuk berkumpul, bersilaturahmi, bertemu saudara yang mungkin jarang sekali berjumpa, lalu saling memaafkan di hari yang fitri.
Alhamdulillah, saya berkesempatan mengikuti momen silaturahmi bersama keluarga besar Trah Abdullah Hadi tahun ini, tepatnya pada 27 Juni, yang berlangsung di Pendopo Museum Tembi Rumah Budaya.
Dari acara syawwalan tersebut, ternyata datang lagi satu rejeki kecil: kesempatan untuk meng-eksplore Museum Tembi Rumah Budaya. Lumayan, selain bersilaturahmi, saya juga mendapatkan bahan cerita untuk artikel kali ini.
Mengenal Museum Tembi Rumah Budaya
Museum Tembi Rumah Budaya yang diresmikan pada 21 Oktober 1999 ini berada di kawasan Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dari luar saja sudah terasa nuansa tradisional Jawa yang kuat. Kompleksnya tidak dibuat seperti museum modern pada umumnya, tetapi mengusung konsep rumah tradisional Jawa yang terdiri atas kuncungan, pendapa, pringgitan, dalem, gandok dan beberapa bagian lainnya.
Museum Tembi bukan sekadar tempat melihat benda lama. Arsitektur rumah tradisional dan koleksi di dalamnya membuat pengalaman berkunjung terasa seperti berjalan memasuki potongan kehidupan Jawa masa lalu.
Museum ini memiliki beragam koleksi benda-benda warisan kebudayaan Jawa. Di dalam dalem yang difungsikan sebagai ruang utama museum, dapat ditemukan berbagai koleksi seperti senjata tradisional berupa tombak dan keris, celengan kuno, serta benda-benda budaya lainnya.
Ada juga koleksi gamelan yang kebetulan sedang ngungsi karena ruangan tempat biasanya dipakai untuk kegiatan syawwalan.
Mengenal Senthong dalam Rumah Jawa
Dari Museum Tembi Rumah Budaya ini saya mendapatkan informasi baru mengenai kebudayaan Jawa, khususnya tentang sistem pembagian ruang dalam rumah tradisional.
Sistem pembagian ruang tersebut disebut senthong atau kamar. Senthong terdiri dari senthong kiwa, senthong tengah dan senthong tengen. Masing-masing memiliki fungsi tersendiri.
Sebagai contoh, senthong kiwa atau bagian kiri digunakan sebagai tempat menyimpan alat dapur dan hasil panen berupa padi atau palawija. Dari sini terlihat bagaimana pembagian ruang dalam rumah Jawa memiliki fungsi yang erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Celengan Antik dan Tradisi Menabung
Koleksi celengan yang ada di Museum Tembi Rumah Budaya bentuknya lucu dan unik. Masyarakat Jawa mengenal tradisi menabung secara sederhana melalui celengan yang bentuknya menyerupai hewan seperti kuda, katak, kura-kura, ayam jago dan berbagai bentuk lainnya.
Ada pula celengan berbentuk bulatan dan tabung yang dibuat dari tanah liat. Tradisi nyelengi menjadi salah satu cara masyarakat Jawa menyimpan uang untuk digunakan di kemudian hari, termasuk ketika menghadapi kebutuhan yang tidak terduga.
Mengintip Koleksi Dakon
Ada yang masih punya dakon di rumah? Museum Tembi Rumah Budaya memiliki beragam koleksi mainan tradisional dakon lengkap dengan keciknya yang dapat dimainkan.
Kecik yang digunakan untuk bermain pun cukup beragam. Ada yang dibuat dari biji sawo, lerak, sirsat, dan ada pula yang menggunakan bahan plastik.
Mainan tradisional bukan sekadar permainan. Di dalamnya ada cerita, kebiasaan, dan kenangan masa kecil yang layak terus dikenalkan.
Aksara Jawa, Majalah Kejawen dan Sepeda Lawas
Di ruangan lainnya, kita dapat menikmati manuskrip dan majalah beraksara Jawa. Salah satunya adalah majalah Kejawen yang diterbitkan pada periode 1923 hingga 1937.
Masih dalam ruangan yang sama, terdapat pula contoh iklan-iklan kuno yang menggunakan bahasa Jawa, baik dengan aksara Jawa maupun Latin. Iklan-iklan tersebut dipajang menggunakan pigura di dinding museum.
Selain benda-benda yang berkaitan dengan tradisi Jawa, terdapat pula beberapa koleksi sepeda onthel dan sepeda motor kuno yang memberikan sentuhan berbeda di antara koleksi etnografi museum.
Rumah Tradisional Jawa yang Bisa Diinapi
Salah satu bagian yang menarik perhatian saya adalah keberadaan rumah-rumah tradisional Jawa bergaya limasan dengan konstruksi dan dinding kayu atau gebyok.
Rumah-rumah tersebut berasal dari beberapa daerah di DIY dan Jawa Tengah. Bangunannya kemudian diangkut dan direkonstruksi kembali di kompleks Tembi Rumah Budaya.
Beberapa rumah tradisional tersebut berusia sekitar 50 hingga 70 tahun dan bahkan dapat digunakan sebagai rumah inap yang dilengkapi fasilitas seperti AC, water heater dan Wi-Fi.
Jagoan kecil saya pun ikut eksis dengan berselfie ria di depan Rumah Inap Ganjuran. Rumah limasan ini didirikan pada tahun 1939 dan diperoleh dari Dusun Jepitu, Tepus, Kabupaten Gunungkidul, DIY pada tahun 2007.
Tak mau ketinggalan dari anak lanang, saya juga ikut mendokumentasikan diri bersama Museum Tembi Rumah Budaya. Hasil jepretan anak lanang ternyata bagus juga. Makasih ya, Nak!
Museum Tembi cocok untuk kamu yang ingin menikmati wisata budaya dengan suasana yang lebih santai. Selain melihat koleksi, pengalaman berkunjung juga terasa lebih menarik karena lingkungan museum memperlihatkan arsitektur rumah tradisional Jawa.
Itulah sedikit cerita tentang Museum Tembi Rumah Budaya, sebuah tempat yang mempertemukan wisata, seni, arsitektur, dan kebudayaan Jawa dalam satu kawasan.
Buat saya, kunjungan kali ini terasa istimewa karena bermula dari silaturahmi bersama keluarga besar Trah Bani Abdullah Hadi. Dari sebuah acara keluarga, ternyata saya mendapatkan kesempatan untuk melihat lebih dekat koleksi dan suasana Museum Tembi.
Rejeki memang kadang datang dalam bentuk yang sederhana: bertemu keluarga, mendapatkan cerita baru, dan pulang membawa kenangan. Semoga tulisan ini bermanfaat. Thanks.
wow koleksinya antik2 ya...jadi inget celenganku waktu kecil
ReplyDeletePEngalaman yang luar biasa, ya Mas Adi. Menyaksikan peninggalan leluhur dan mengakrabinya.
ReplyDeleteMuseumnya keren neh. Lihat coklak aku jadi ingat masa kecil itu
ReplyDeleteThanks for sharing, mas. Jadi nambah referensi tujuan wisata nih.
ReplyDeleteWaktu kecil, saya rajin menabung di celengan tanah liat. Seneng aja begitu dipecahin isinya banyak meskipun isinya koin semua :D
ReplyDeleteIni masih asli banget ya seolah ga terkena dampak teknologi. Hehehe.. Keren etnik
ReplyDeleteUdah lama gak kesini lagi. Tepat tahun kemarin disaat Ramadhan, aku bersama teman-teman buka puasa disini. Tempatnya asik, sembari menunggu waktu buka kami semua bisa menikmati pemandangan, apalagi kolam yang dibelakang, setelah buka puasa bisa lihat-lihat barang antrik, termasuk batik, piano dan peralatan gamelan.
ReplyDeleteLihat tulisan ini jadi kangen akan rumah budaya tembi. Semoga bisa kesana lagi..he
Iya mas Andi, tempatnya asik banget
DeleteAku pernah ke situ mas, asri banget dan menenangkan.... :)
ReplyDeleteBagus banget museumnya dan banyak koleksi juga bang.. Jogja memang mantap
ReplyDeleteWah congklak nya keren yah. :)
ReplyDeletegimana tuh isinya majalah kejawen ia ??? wkwkkwkwk
ReplyDeleteButuh Kamus dah klo gtu
Wah keren banget ini, mampir aahh kapan-kapan. Kebetulan ipar saya rumahnya di Bantul.
ReplyDeleteBagus banget kak, bisa liburan lebaran ke tempat untuk menjaga kelestarian adat setempat. Sedih juga liburan stay di rumah
ReplyDeleteBener-bener artistik deh mas, saya sampai takjub melihat foto-fotonya. Silaturahmi di tempat ini penuh makna ya mas, sebagai ajang mempererat hubungan kekeluargaan sekaligus lebih mengenal peninggalan leluhur yang patut dilestarikan.
ReplyDeleteUntuk masuk ke museum, pengunjung tdk dipungut biaya mas.
ReplyDeletePaling suka lihat bangunan khas Jawa ini.
ReplyDeleteKemaren lewat Tembi, sayang gak mampir karena terlalu fokus ke tujuan awal.
Semoga kelak bisa menikmati daerah ini.
Koleksi museumnya barang antik ya, kalau ingat Tembi inget Kopdar Blogger Nusantara :D
ReplyDeletekeren kk
ReplyDeleteWah jadi makin kepengin jalan2 ke museum nih. BTW kalau hari minggu museum di Jogja apa tetao buka ya?
ReplyDeleteUntuk museum Tembi Rumah Budaya buka pukul 08.00 – 16.00 WIB (Senin – Jumat) dan 08.00 – 14.00 WIB (Sabtu) (Sumber: www.tembi.org)
DeleteSerius mas tidak di pungut biaya?
ReplyDeleteDuarius mas Dwi Yulianto... :)
ReplyDelete