yang Bernama Nafsu
adipraa.com — Alhamdulillah, kita update lagi cerita Jelajah Majelis Ilmu. Rasanya selalu menjadi rezeki tersendiri ketika masih diberi kesempatan, waktu, dan kesehatan untuk duduk bersama dalam sebuah majelis ilmu.
Kali ini saya berkesempatan mengikuti pengajian malam Jumat Kliwon di Musholla Al Huda, bersama Ustaz Kiki F. Wijaya. Kajian malam itu membahas tentang tujuh tingkatan nafsu, sebuah pembahasan yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kita mungkin merasa sudah merdeka. Tidak ada yang menjajah, tidak ada yang mengatur setiap langkah kita. Namun, kalau direnungkan lebih dalam, benarkah kita benar-benar merdeka?
Bisa jadi tubuh kita bebas, tetapi hati dan pikiran masih dikendalikan oleh keinginan-keinginan tertentu. Ingin dipuji, ingin menang sendiri, mudah marah, sulit menerima kesalahan, atau bahkan merasa lebih baik daripada orang lain.
Kadang justru bersemayam di dalam diri sendiri.
Inilah salah satu bentuk penjajahan yang datang dari dalam diri, yaitu ketika nafsu menguasai manusia.
Dalam kajian tersebut, Ustaz Kiki menjelaskan pembahasan berdasarkan kitab karya Syekh Abdul Kholiq As-Sabrawi yang membahas tentang jenjang-jenjang nafsu. Secara umum terdapat tujuh tingkatan nafsu. Namun, dalam pertemuan kali ini pembahasannya baru sampai pada tiga tingkatan: nafsu amarah bishu, nafsu lawwamah, dan nafsu mulhamah.
Nafsu Amarah Bishu
Ketika nafsu mengajak kepada keburukan. Tingkatan pertama adalah nafsu amarah bishu, yaitu nafsu yang mendorong atau memerintahkan manusia kepada keburukan.
Pada tahap ini, seseorang bisa saja berada dalam kondisi ketika dosa dan kemaksiatan seolah-olah sudah menjadi sesuatu yang biasa. Ada banyak hal yang membelenggu, tetapi justru tidak terasa sebagai belenggu karena sudah terlalu sering dilakukan.
Untuk mengobati nafsu amarah bishu, salah satu langkah paling mendasar adalah kembali taat kepada syariat. Apa yang diperintahkan Allah dikerjakan dan apa yang dilarang ditinggalkan.
Selain itu, kita juga perlu memperbanyak rasa takut kepada Allah. Bukan ketakutan yang membuat kita putus asa, tetapi rasa takut yang menjadi pengingat agar tidak mudah melakukan maksiat.
Pada tahap ini, iman juga perlu terus diperbarui. Salah satu caranya adalah dengan memperbanyak dzikrullah, termasuk memperbanyak membaca laa ilaaha illallah.
Sebagaimana hadis yang disampaikan dalam kajian, “Jaddidu imanakum”, perbaruilah iman kalian dengan memperbanyak zikir kepada Allah.
Nafsu Lawwamah
Sudah berusaha taat, tetapi masih sering jatuh. Tingkatan kedua adalah nafsu lawwamah, yaitu kondisi ketika jiwa mulai memiliki kesadaran dan mengalami penyesalan terhadap kesalahan.
Pada tahap ini seseorang mungkin sudah mulai berusaha taat kepada Allah, tetapi sesekali masih terjerembab melakukan dosa atau kesalahan yang sama.
Kalau dipikir-pikir, fase ini mungkin cukup sering kita alami. Sudah berjanji tidak mengulangi sebuah kesalahan, tetapi suatu saat kembali terjatuh. Sudah merasa menyesal, kemudian berusaha memperbaiki diri, tetapi kembali tergelincir.
Setidaknya ada satu hal penting: kesadaran bahwa perbuatan tersebut salah dan munculnya penyesalan di dalam hati.
Pada tingkatan ini terdapat dua perilaku yang perlu diperhatikan, yaitu riya dan ujub. Riya muncul ketika amal mulai bercampur dengan keinginan mendapatkan penilaian manusia. Sementara ujub membuat seseorang kagum terhadap dirinya sendiri.
Yang lebih berbahaya adalah ketika seseorang keliru, tetapi merasa dirinya benar.
Di sinilah proses memperbaiki diri menjadi penting. Belajar bukan hanya untuk mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi juga untuk melatih kerendahan hati agar tidak mudah merasa paling benar.
Nafsu Mulhamah
Ketika jiwa mulai mendapatkan pencerahan. Nafsu mulhamah digambarkan sebagai jiwa yang mulai mendapatkan ilham atau petunjuk.
Ada perubahan dalam diri seseorang. Perkataannya semakin didengarkan oleh orang lain, nasihatnya mulai memberikan pengaruh, dan keberadaannya bisa menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitar.
Tetapi justru pada tahap inilah terdapat jebakan yang sangat halus. Ketika orang lain mulai menghormati, mendengarkan, dan menganggap kita memiliki pengetahuan, muncul potensi perasaan bahwa diri ini sudah menjadi orang baik, bahkan merasa suci.
Jika tidak hati-hati, seseorang bisa sampai pada perasaan tidak lagi membutuhkan ibadah atau merasa sudah mencapai tingkat tertentu.
Padahal ilmu seharusnya membuat seseorang semakin dekat kepada Allah, bukan semakin jauh karena merasa sudah cukup.
Jangan Sampai Nafsu Menjadi Penguasa
Dari kajian malam Jumat Kliwon ini, saya pulang membawa satu kesimpulan sederhana: kemerdekaan yang sebenarnya bukan hanya bebas dari penjajahan manusia, tetapi juga mampu membebaskan diri dari penjajahan hawa nafsu.
Ternyata perjalanan memperbaiki diri memiliki banyak tingkatan dan setiap tingkatan mempunyai tantangannya masing-masing.
Mungkin kita belum sampai pada tingkatan jiwa yang tinggi. Bahkan bisa jadi masih sering bergulat dengan nafsu amarah bishu atau berulang kali jatuh pada kesalahan yang sama.
Namun, selama masih ada kesempatan untuk belajar, bertaubat, memperbarui iman, dan memperbaiki diri, perjalanan itu belum selesai.
Alhamdulillah, dari sebuah kesempatan sederhana untuk jelajah majelis ilmu di Musholla Al Huda, saya kembali diingatkan bahwa musuh terbesar tidak selalu datang dari luar.
Kadang ia justru bersemayam
di dalam diri sendiri.
Namanya: NAFSU.
Dan tugas kita bukan membiarkannya menjadi penguasa, tetapi belajar menundukkannya sedikit demi sedikit.

0 comments: