Sehari Menjelajah Dieng
Berburu sunrise, menyusuri pegunungan dengan jeep, menikmati air panas, hingga makan siang di atas perahu. Satu hari, banyak cerita dari Dieng dan Wonosobo.
adipraa.com – Jalan-jalan sehari ke Dieng dan Wonosobo ternyata bisa memberikan banyak pengalaman menarik. Mulai dari berburu sunrise sejak pagi buta, naik jeep menyusuri kawasan pegunungan, menghangatkan kaki di pemandian air panas, sampai makan siang di atas perahu yang mengelilingi telaga. Semuanya kami nikmati bersama teman-teman dalam satu perjalanan yang cukup padat, tetapi menyenangkan.
Mengejar Sunrise di Dieng
Perjalanan dimulai sejak pagi buta dengan tujuan Maha Sky Dieng di kawasan Batu Angkruk. Agenda utamanya tentu saja berburu matahari terbit. Udara dingin khas pegunungan langsung terasa begitu kami tiba di lokasi. Namun, rasa dingin itu seolah terbayar ketika langit perlahan berubah warna menjadi jingga keemasan.
Siluet pegunungan terlihat berlapis-lapis, dengan Gunung Sindoro yang berdiri megah di kejauhan. Saya pun tidak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan pemandangan tersebut. Rasanya sayang kalau momen sunrise seindah ini hanya dinikmati tanpa membawa pulang foto sebagai kenang-kenangan.
Menyusuri Pegunungan dengan Jeep
Setelah puas menikmati sunrise, perjalanan berlanjut menggunakan jeep menuju pemandian air panas Banyu Alam. Menjelajahi kawasan pegunungan dengan jeep memberikan sensasi tersendiri, apalagi sambil menikmati pemandangan alam di sepanjang perjalanan.
Menghangatkan Kaki di Banyu Alam
Sesampainya di Banyu Alam, saya memilih menikmati air hangat dengan cara sederhana, yaitu mencelupkan kaki ke dalam kolam. Saya tidak ikut berendam seluruh badan. Cukup duduk santai, merasakan hangatnya air, dan menikmati pemandangan alam sekitar.
Setelah beraktivitas sejak dini hari, momen sederhana seperti ini terasa menyenangkan. Ternyata, liburan tidak harus selalu diisi kegiatan yang melelahkan. Sesekali, menikmati suasana dengan santai juga menjadi bagian penting dari perjalanan.
Singgah di Kawah Sikidang
Destinasi berikutnya adalah Kawah Sikidang, salah satu tempat wisata yang cukup populer di kawasan Dieng. Kawah ini dikenal dengan aktivitas vulkaniknya, termasuk uap panas yang muncul dari kawasan kawah. Sayangnya, ketika kami tiba, cuaca sedang terik-teriknya. Akhirnya, kami memilih tidak terlalu jauh berkeliling dan cukup menikmati pemandangan dari kejauhan. Meski begitu, kunjungan ke Kawah Sikidang tetap menjadi bagian menarik dari perjalanan.
Membawa Pulang Ubi Yakon
Sebelum melanjutkan perjalanan, saya menyempatkan diri mencari oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Dan saya menemukan satu oleh-oleh yang menarik, ubi yakon. Umbi yang dikenal juga dengan nama yacon ini berasal dari Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan dibudidayakan di sejumlah wilayah pegunungan, termasuk Indonesia. Bentuknya menyerupai umbi dengan kulit kecokelatan, sedangkan bagian dalamnya berwarna putih kekuningan. Teksturnya renyah, berair, dan memiliki rasa manis yang menyegarkan.
Kenalan dengan Yakon
Yakon juga mengandung fruktooligosakarida (FOS), yaitu jenis karbohidrat yang dapat berfungsi sebagai prebiotik atau sumber makanan bagi bakteri tertentu yang bermanfaat di dalam usus. Menemukan ubi yakon menjadi pengalaman kecil yang menarik karena saya bisa membawa pulang oleh-oleh sekaligus mengenal bahan pangan yang mungkin belum terlalu familier bagi sebagian orang. Lumayan, perjalanan wisata kali ini juga menambah pengetahuan baru.
Melewati Tanjakan Sikarim dan Curug Sikarim
Usai dari Kawah Sikidang, perjalanan dilanjutkan menuju Telaga Menjer untuk makan siang. Salah satu bagian perjalanan yang menarik adalah ketika kami melewati Tanjakan Sikarim yang dikenal dengan jalurnya yang menanjak dan berkelok. Di tengah perjalanan, kami juga melewati sebuah air terjun Curug Sikarim, salah satu wisata alam di kawasan Dieng dan Wonosobo. Namun kami tidak berhenti untuk menjelajahinya lebih jauh karena tidak ada dalam agenda perjalanan. Meski hanya melewatinya, keberadaan air terjun di tengah lanskap pegunungan menambah daya tarik perjalanan hari itu.
Perjalanan melewati kawasan Sikarim juga menyuguhkan pemandangan perbukitan hijau dan lahan pertanian yang mengikuti kontur lereng. Jalurnya cukup menantang sehingga perlu dilalui dengan hati-hati. Bagi saya, perjalanan darat seperti ini juga menjadi bagian dari pengalaman wisata. Terkadang, bukan hanya tempat tujuan yang menarik, tetapi juga pemandangan dan suasana sepanjang perjalanan.
Makan Siang di Atas Perahu Telaga Menjer
Setibanya di Telaga Menjer, agenda makan siang menjadi hal yang paling dinantikan. Namun, kali ini kami tidak makan di warung atau restoran biasa. Kami menikmati hidangan di atas perahu yang berjalan mengelilingi telaga. Pengalaman ini terasa berbeda karena selama makan, kami disuguhi pemandangan air telaga yang luas dengan latar perbukitan hijau. Angin bertiup pelan, sementara perahu bergerak perlahan menyusuri telaga. Sambil menikmati makanan, kami bisa mengobrol, bercanda, dan mengambil foto.
Setelah perjalanan yang cukup padat sejak pagi, suasana Telaga Menjer terasa pas untuk beristirahat. Makan siang di atas perahu menjadi salah satu pengalaman paling menarik dalam perjalanan ini. Bukan hanya soal makanannya, tetapi juga suasana alam yang membuat momen sederhana terasa lebih istimewa.
Pabrik Teh Tambi, Sampai di Luar Saja
Destinasi terakhir, perjalanan kami berlanjut ke Pabrik Teh Tambi. Saya cukup tertarik untuk melihat proses pengolahan teh secara langsung. Namun, setelah beraktivitas sejak dini hari dan mengunjungi beberapa destinasi, badan ternyata sudah cukup lelah. Akhirnya, saya memutuskan tidak ikut masuk melihat proses produksi di pabrik tersebut. Sedikit disayangkan memang, tetapi tidak semua rencana harus dipaksakan terlaksana. Setidaknya, Pabrik Teh Tambi sudah masuk dalam daftar tempat yang pernah disinggahi. Siapa tahu, pada perjalanan berikutnya saya bisa kembali dengan kondisi yang lebih segar dan waktu yang lebih leluasa.
0 comments: